Thursday, July 26, 2007

Bayarlah Nazarmu Kepada Yang Maha Tinggi


JUBILEUM HKBP 150 TAHUN 2011

BAYARLAH NAZARMU KEPADA YANG MAHATINGGI
( MAZMUR 50.14 )

HKBP MENJADI GEREJA YANG INKLUSIF DENGAN PEUJUDAN SEJAHTERA MASYARAKAT SEJAHTERA GEREJA

JEREMIA 29.7

Pdt. Nelson Siregar, STh

Kadep Diakonia HKBP Pusat



I. Pengantar

Ketika Ratu Victoria Inggiris mempersiapkan perayaan ulang tahunnya yang ke 60 tahun 1987, maka sekelompok orang meninjau kembali sejarah 60 tahun yang lalu. Peninjuan itu telah membukakan mata mereka atas keseluruhan sejarah bahwa antara tahun 1837-1897 Barat telah selesai menyempurnakan kuasa pengaruhnya keseluruh dunia.[1] Akibat kesimpulan itu ,peristiwa masa lalu di belahan dunia lainnya dianggap tidak relevan. Cara pandang retrospektip atas sejarah ini dapat diterima akal tahun 1897, tapi tidak demikian pada tahun 1973. Sebab dari kajian ekspert lainnya ternyata Cina dan Jepang pun sudah mencapai pengaruh peradaban sampai ke Peru Amerika Latin. Demikian juga kesimpulan itu telah terlalu banyak mencampakkan tradisi lainnya seperti 3 aliran kekristenan, yaitu Nestorianisme, Monophsytisme dan Ortodox Timur. Apalagi juga sangat mengabaikan tradisi Jahudi dan Hellenisme.

Jika dikaji lebih lanjut, juga Indonesia, bahkan Batak pun berhak untuk mengclaim dirinya memiliki peradaban yang cemerlang, walaupun mungkin dalam lingkaran yang sangat terbatas, apalagi tidak dikaitkan dengan dominasi kolonialis, imperialis.

Bertolak dari pentingnya kajian sejarah menjelang Jubileum HKBP 150 tahun, maka di satu pihak perlu peletakan sasaran apa-apa saja yang perlu diprioritaskan untuk dicapai. Apa yang sudah kita alami dalam berbagai tahapan perkembangan internal dan eksternal yang mempengaruhi kehidupan sebagai bagian integral bangsa, masyarakat dan gereja. Juga penetapan sasaran-sasaran strategis lainnya agar tidak terjadi claim yang salah persepsi terlebih dalam kerangka proyeksi kajian ke depan. Jika demikian, maka intensitas diskusi seperti diprakarsai sekarang ini sangat urgent dan visioner.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa sejak tahun yang lalu HKBP sudah menggulirkan bahwa tahun 2007 menjadi tahun pencanangan penyelenggaraan persiapan pra Jubileum 150 tahun HKBP. Selajutnya tahun 2008 menjadi tahun Marturia dan 2009 menjadi tahun Diakonia. Karena itu tahun 2007 ini semestinya menjadi pengkajian awal teologi Jubileum . Apa makna dasar ( signifikasi ) Jubileum bagi pelayanan kita mulai tahun ini, agar semua institusi, kehidupan jemaat basis, distrik, dan hatopan HKBP memaknai gerakan merayakan Jubileum. Sehingga dengan pemaknaan itu menjadi jelas arah pelayanan di semua aras, lembaga dan semua unit lainnya. Kayak apa yang dapat mereka sumbangkan dalam persembahan perayaan Jubileum tersebut. Dengan demikian penjadualan, langkah-langkah capaian tahun marturia 2008, tahun diakonia 2009 juga menjadi jelas ke depan ini.

Demikian pula langkah strategis berikut tahun 2010 akan menjadi persiapan merampungkan kegiatan pembaharuan yang dominatip dan legitimatif ,apa saja yang akan disyukuri dalam acara puncak ibadah perayaan Jubileum tahun 2011. Agar tahun 2011 menjadi acara perayaan puncak, maka sejak tahun 2007 sudah perlu kita rangkai kegiatan yang merupakan konfigurasi kejadian terjadi yang mencerminkan sekaligus adanya relasi yang jelas dengan kerangka peujudan visi HKBP menjadi gereja yang inklusip, transparan dan dialogis serta berkualitas.

Karena itu secara metodologis mungkin amat baik, jika dalam tahun 2007 ini juga dilakukan berbagai persiapan rekonstruksi histories dari perayaan pra dan ketika Jubileum ke 50 dan ke 100 yang dikaji dengan kritis. Rekonstruksi histories itu segera akan mengungkap masih banyaknya hutang kita yang belum terlunaskan. Sehingga tahun 2011 HKBP bukan hanya mempersiapkan konfigurasi pesta pora, juga tak cukup hanya memikirkan simbolisasi apa yang akan dilegitimasi. Sebab itu mungkin tak kalah pentingnya, jika kita mempersiapkan kerangka perpesktip yang dimensional dan antisipatip apa yang diharapkan dapat tetap berkelanjutan , ditingkatkan, dikoreksi dan diperbaharui dari masa ke masa hingga 50 tahun ke depan, 2061. ( kebanyakan kita mungkin tidak lagi hidup di waktu itu ). Apakah mungkin dapat dimantapkan konsepsi kemandirian teologi, daya dan dana?.

II. Rekonstruksi sejarah pemaknaan perjumpaan peradaban

Lebih jauh jika dicari akar sejarah peradaban Batak sebelum kekristenan dan sesudah kekritenan, maka kita melihat peradaban masyarakat Batak sudah pernah melakukan beberapa kali perjumpaan peradaban. Dari rekonstruksi sejarah perjumpaan peradaban masyarakat Batak dengan peradaban eksternal atau yang asing minimal sudah tercatat pernah terjadi 7 kali, yakni :

1. Pengaruh Hindu memperkaya budaya Batak,

2. Penolakan Kristen dan islamisasi menjadi ujian panjang selama 41 tahun masih adanya ketahanan peradaban Batak,

3. Berhasilnya studi orientalis menjadi pembuka jalan penerimaaan Kekeristenan dan tentu karena integritas missionar, terlebih Nomensen yang berhasil menginternalisasi pelayanan diakonia sebagai pintu memperkenalkan keunikan Injil Kristus.

4. Penerapan ide orientalis juga menjadi keberhasilan lain bagi peneterapan kolonialisme ?. Penggabungan kekuatan peradaban Batak dan Kekristenan menjadikan Kristen Batak sebagai agen pembaharuan pemakai posisi di Kolonial sebagai kenderaan memasuki Indonesia merdeka.

5. Peradaban Batak yang berhasil menngunakan kenderaan Missionar dan Kolonial sebagai kekuatan anitesis meujudkan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan revolusi. Juga peluang pendidikan yang diperoleh dari pendidikan RMG dan pendidikan Belanda turut memperkokoh kemampuan kritis anak-anak Batak mengkritisi gerakan kesadaran berbangsa, beroikumenis dan bernegara.

6. Peradaban Batak yang menjadi subordinasi di era pembangunan telah menimbulkan reduksi peran social gereja HKBP serta membuka peluang menguatnya kemajuan penyaing gereja lain, agama lain dan organisasi masyarakat lainnya.

7. Peradaban memasuki Era demokrasi dan globalisasi sebagai peluang dan ancaman sekaligus bagi kemajuan atau matinya makna kearifan budaya local dan budaya nasional.

Dalam setiap perjumpaan itu nampak adanya dinamika yang kadang-kadang terjadi dialekti kaya yang memperkaya peradaban dirinya di satu pihak, tapi dipihak lain sering pula mesti kompetitip yang kemudian menciptakan konflik, bahkan benturan keras yang membuka peluang untuk pecah. Itu sebabnya dalam kehidupan masyarakat Batak sering harus mengorbankan nilai-nilanya atau mungkin mengendapkan rahasia peradabannya agar kesinambungan hidupnya tetap eksis. Dinamika ini mungkin terjadi hingga sekarang. Makanya dari ke 7 kekuatan substansial perjumpaan tadi itu, jika diperas akan terlihat adanya 3 kekuatan yang saling tindih menindih, kadang juga ada saatnya merusak dirinya antara lain sering muncul tensi (gesekan) bahkan benturan keras ( masirapusan ) yang berahir ke schisma. Kenapa ketiga kekuatan itu berbenturan demikian tentu ada beberapa alasan.

Pertama senantiasa dari diri ( the ego) budaya masyarakat Batak itu sendiri disadari atau takdisadari ada kekuatan yang melanggengkan resistensi dan juga berpeluang berkonflik benturan. Sulit digambarkan apakah itu untuk mempertahankan diri, atau hanya sekedar romantisme asal berkiblat ke basis budaya Batak agar tetap masih eksis dalam pertimbangan hitungan (jambar) dalam setiap even yang diraih.

Kedua, senantiasa ada kekuatan mempertahankan peradaban kekristenan dan budaya Barat yang sudah dialami dan diterima pernah memperkaya kekuatan basis budaya Batak atau dan sekaligus peradaban modernisasi sebagai kekuatan yang menggarami dan terang. Sehingga sering terjadi tensi perjumpaan kedua peradaban tersebut.

Kemudian arus yang ketiga adalah kekuatan masyarakat baru Negara Republik Indonesia, yang diawali dengan perang perlawanan Sisingamangaraja. Kemudian menjadi arena dan komitmen tempat utama HKBP berkiprah sebagai salah satu kekuatan membangun Indonesia yang memiliki peradaban jati diri, modern dan kritis ditengah dunia. Ini sering disebut arus modernisasi sekuler.[2] Respond terhadap gerakan sekuler yang sering butuh pengakuan juga pernah mencabikcabik kekuatan kedua kekuatan lainnya.

Sederetan nama dapat diinventarisasi dalam konteks kajian dinamika ini. Antara lain, secara gamblang Dr F.H.Sinaipar dalam buku pengukuhan Proffesornya di Siantar tanggal 7 Oktober 1973[3], menjelaskan betapa hebatnya benturan perjumpaan ketiga arus tersebut, sehingga menimbulkan berbagai konflik, bahkan ada yang mengarah kepada kekacauan nilai-nilai dalam diri manusia Batak, seperti sikap apatis Batak terhadap pengaruh peradaban Kristen dan modernisasi. Sebahagian bersikap pura-pura menyukai modernisasi, karena merasa jemu akan tuntutan nilainilai lama. Karena terlalu dipaksakan, maka tak jarang dari orang-orang Batak mengalami gejala penyakit kejiwaan schizophrenia terutama dikalangan muda-mudi yang hidup di kota seperti perasaan bersalah ( quilty) secara berlebihan. Untuk merespon ini, maka gereja perlu mengkoreksi teologinya sebagaimana diusulkan agar ada perhatian menyusun muatan tema-tema penting dalam Confessi HKBP, antara lain perlunya bab khusus tentang manusia, Pemahaman baru tentang relevansi Firman Tuhan, teologia yang relevan menangkap relevansi oikumenis, dsb. Sedangkan teologia yang relevan merespon benturan peradaban diatas, diusulkan agar metode teologi korrelasi ( teologia yang mengkaji Injil dalam konteksnya tanpa terperangkap ke dalam perpecahan, suatu bentuk penyembuhan dan menghindari terjadinya perpecahan yang berlarut-larut ) diharapkan dapat mengatasi konflik nilai-nilai dalam masa depan.

Kajian yang hampir mirip juga pernah dikemukakan Dr SAE Nababan, yang jika gereja HKBP tidak mempersiapkan diri memasuki era industrialisasi maka gereja juga akan turut ditinggalkan jemaatnya. Kajian lain dapat dicek dalam buku Dr Bungaran Simajuntak dalam konteks dinamika pemahaman arti dan fungsi tanah bagi masyarakat Batak [4]atau dalam bukunya Dr Hotman Siahaan[5] tentang nilai-nilai budaya Batak yang secara popular mengkaji kaitan budaya Batak dalihan Natolu yang dinamis sampai sekarang.

Dari kajian kritis yang sangat dikuatirkan tadi, ternyata masih ada kajian yang masih sisa, apakah budaya batak dan kekristenan terancam lenyap jika tidak mempersiapkan diri memasuki modernisasi atau justru sebaliknya justru terlindas jika gereja dan budaya batak mengikuti gaya hidup modernisasi ( ditortori na so tortor na ). Gereja akan menjadi kekuatan the others jika tidak mengakar, pada budaya, jika tidak mengakar pada komitmen atau panggilan dasarnya sebagai garam dan terang dalam konteks social, budaya, ekonomi dan politik.

Jika gereja menyusun agendanya memahami konteks sebagaimana sudah diajajaki sejak tahun 1940-an oleh kelompok pembaharu awam dan teolog waktu itu, maka pada waktu itu secara integral menampakkan kerinduan untuk memandang gereja Batak sebagai kekuatan yang sekaligus tetap menghargai identitas kebatakannya[6], dan gerejanya.[7] Jika demikian halnya, maka mungkin sudah tiba saatnya bagi kita sekarang ini juga untuk mengkonstruksi identitas HKBP yang mungkin tidak harus memakai konsepsi sintensis, melainkan justru keunikan seperti pernah diungkapkan HKBP is HKBP.

Terkait dengan kajian ini mungkin baik jika kita bisa menstudi buku dari Dr Hassan Hanafi, dalam buku oksidentalisme, suatu kajian hermeneutic menentang dominasi studi orientalisme yang dengan sengaja menjadikan orang-orang diluar bangsa Barat sebagai objek dikalahkan dan terjajah.[8] Sehingga mentalitas kita tidak sampai pada usaha meujudkan kemandirian di bidang teologi, daya dan dana.

Apalagi tentu selain perjumpaan ketiga benturan peradaban itu, factor eksternal asing tetap butuh studi lain tentang konteks pengaruh ekternal yang mempengaruhi bangsa kita, istimewa dalam perjumpaan peradaban dengan pengaruh Islam dan perang idiologi Barat dan Timur. Dalam konteks globalisasi terlihat bahwa posisi Negara Indonesia sering harus menerima dirinya menjadi korban dan terpaksa menghilangkan kepentingan nasionalismenya dan kearifan lokalnya. Karena itu menjadi sangat baik, jika dikaji apakah peradaban Batak Kristen atau Kristen Batak tetap masih dapat mempertahankan dirinya sebagai kekuatan moral, spiritual bangsa ditengah bangsa ini. Atau kita hanya ikut-ikutan saja dengan mempercayakan segala sesuatunya atas nama gerakan oikumenis di Indonesia. Sehingga persoalan gereja kita tidak hanya bagaimana mempertahankan hidup eksis sebagaimana adanya, tetapi mengkaji sejauhmana identitas kita masih dapat berkiprah memperkaya gereja yang inklusip atau justru sebaliknya terus mengalami proses degradasi, reduksi kadar keyakinan dan peradabannya sendiri yang mendorong mentalitas miskin ,mental minder ditengah tengah masyarakat lain.

Karena itu dengan adanya kajian rekonstruksi histories tersebut, ditambah lagi dengan usaha memaknai kontruksi teologis Tahun Jobel dan relevansinya sejauhmana Kristen Batak atau Kristen Batak dalam konteks peradaban internalnya dapat memelihara kearifan lokalnya.[9] Serta bagaimana ia berkemampuan mempengaruhi lingkaran yang luas, oikumenis, nasional dan global. Maka menjadi sangat terbantu kita memperoyeksikan program 50 tahunan ke depan paska perayaan Jubileum 150 tahun ke depan, baik menyangkut pembaharuan teologi dan ibadah, maupun dalam pembaharuan kehidupan kita bergereja di tengah masyarakat,bangsa, dan dunia.

Kajian konteks perjumpaan peradaban Batak berikut ini akan disampaikan dalam ringkasan sekilas, sebab memang jika dikaji mendalam akan membutuhkan studi yang lama, tetapi minimal dengan telaahan ini kita sekedar terbantu untuk memetakan kekayaan peradaban yang sudah dihadapi oleh orang Batak dan yang Kristen. Dari perjumpaan itu mungkin dapat nantinya disimpulkan plus minus, quo vadis orang Batak yang Kristen ini ke depan. Apakah masih tetap bertahan pada kultur peradabannya yang Batak, atau justru lebih adaptip larut terhadap dunia yang semakin risih dengan pluralisme.

1. Perjumpaan Batak dengan peradaban asing yang pertama ,yakni pengaruh pemikiran Hindu.

Menurut Dr JR Hutauruk bahwa pengaruh Hindu tidak mampu memberi orientasi yang sama buat semua orang Batak, mereka justru menyesuaikan diri kepada kepelbagaian yang telah ada sebelumnya. Namun nampak adanya keterbukaan orang Batak terhadap pengaruh dari luar serta kesanggupannya untuk mempribumikan pengaruh luar tersebut[10].

Lebih jauh Dr Harry Parkin dalam tesis Doktornya dengan judul buku Batak Fruit of Hindu Thought[11],. sebelum menjelaskan pengaruh Hindu dalam masyarakat batak diciter kajian baru tentang studi agama primitip bahwa tidak lagi cocok dipandang sebagai agama yang irrasional atau penuh dengan hal-hal yang gaib sebagaimana selama ini difahami oleh para sosiolog dan antropolog. Dalam konteks agama Batak, ternyata agama ini sangat dinamis dan dapat secara kreatip menyesuaikan diri dengan rumah barunya. Itu sebabnya komunitas gereja Batak di Sumatera Utara membuka studi yang dinamis bagaimana agama primitip dihubungkan dengan Injil Yesus Kristus, hal x-xii. Dalam kajiannya beliau mengkaji bahwa ternyata ada konsep Hindu yang diartikulasi Batak seperti terlihat dalam system kehidupan di masyarakat, beragama dan menjalankan adaptasi. Dengan hadirnya Hindu, terlebih dalam system keyakinan akan Mulajadi Nabolon kemudian turut membantu orang Batak menerima dan menghormati Injil Kristus. Tetapi walaupun sudah menerima Kekristenan masyarakat Batak tetap dinamis, membangun peradabannya, karena itu ia tidak sekaligus mati atau meninggalkan yang lama.

2. Peradaban asing yang ditolak keras, tapi dikalahkan melalui pendekatan studi orientalis, 1820-1861

Kurang lebih 41 tahun masyarakat Batak berada pada posisi tertantang, disatu pihak ingin agar tetap mempertahankan the ego mereka, tetapi dilain pihak terlihat gencarnya pengaruh asing yang mulai menganggu suasana kehidupan internal Batak.

Tahun 1820 datang Ward dan Burton nampak tidak mempunyai kesan dan dampak. Hanya mungkin karena mereka utusan Injili Babtis dari Inggiris yang dominant mengajarkan Injil pertobatan tanpa artikulasi pendekatan budaya, maka penolakan terhadap mereka spontan terjadi.[12] Penolakan terhadap agama Islam aliran Hambali juga terjadi. Selain ditolak karena adanya unsur kekerasan dan pemaksaan, juga disana disinyalir ada kaitan unsur balas dendam dari keluarga kerajaan Sisingamangaraja ( Sipongki nagolgolan) [13] sebagaimana diungkap dalam buku Tuanku Rao. Penolakan ketiga juga terjadi terhadap para missionar yang kemudian dibunuh di Lobu Pining, yakni terhadap Lyman dan Munson dari Boston aliran Babtis Amerika. Pembunuhan ini sempat membuat orang Batak dikenal kannibalis, yang meyakini adanya perpindahan roh dari yang dikorbankan. Tetapi menurut Dr FH Sianipar dalam buku Lyman dan Munson[14] mengkritisi terjadinya pembunuhan bukan dalam rangka pemulihan agama, melainkan lebih pada peringatan terhadap antisipasi datangnya yang asing yang menjajah.

Studi budaya Batak yang dilakukan secara konprehensip telah dilakukan oleh Van der Tuuk ( Pandoltuk atau Si Balga Igung )[15] sebagai seorang ahli bahasa yang ulung dan telah berhasil mengumpulkan sekitar 2500 ceritera rakyat. Ia mampu mengarang tata bahasa Batak, kamus Batak dan menterjemahkan beberapa bagian Alkitab[16]

3. Penerimaan missionar

Menarik untuk mengkaji kenapa ahirnya orang Batak dapat membuka diri terhadap pengaruh missionar. Tema pendekatan pembebasan terhadap mereka yang tertindas dan perhambaan barangkali menjadi pelopor kekeristenan yang pertama. Namun sebagaimana disampaikan oleh Dr Andar Tobing budaya Batak yang fleksibel yang melihat kekristenan sebagai kendaraan memenuhi filosofi hidup 3 H patut diperhatikan sebagai awal penerimaan kekristenan.

Tapi juga hendaknya peran Nommensen senantiasa membanyangi keberhasilan kenapa orang Batak menerima kekristenan. Ada minimal 10 pemahaman strategis dan normatip yang nampak dari kelihaian Nommensen. [17]

Pertama, Nomensen dan kemudian missionar lain dengan kesadaran penuh dan sangat tertarik mempelajari dan memasuki budaya peradaban Batak. Ini dapat dibuktikan dengan kemampuannya menterjemahkan Alkitab secara kontekstual dan internalisasi budaya Batak. Penguasaan bahasa dan budaya menjadi jalan orang Batak menerima Nomensen dan Injil yang disampaikannya. Bahasa Batak sangat menyentuh. Berbeda dari missionar sebelumnya di era penolakan yang mungkin lebih mengutamakan pemberitaan Injil ketimbang penghargaan kemanusiaan.

Kedua,Nomensen dkk berhasil memahami keinginan terdalam masyarakat Batak yang sangat cinta terhadap kehidupan ( biophilia ). Agia lapa-lapa ditoru ni sobuon agia malap-alap asal ma dihangoluan. Filosofi ini dapat diinisiasi agar tidak sekedar memenuhi kehidupan sekedar, tapi juga tidak hanya untuk 3 H, melainkan untuk kehidupan abadi. Joh 10.10. Simbolisasi monumental dari pemahaman ini, makanya orang Batak menerima kontradiksi kebutuhan ilmu medis, berdirinya klinik dan rumah sakit kontra datu sibaso.

Ketiga, ahirnya orang Batak juga menerima konsepsi pencerdasan ketika mereka mendengar metode pendidikan Nomensen yang diawali dengan memperkenalkan koor, sekaligus memperkenalkan angka, alat untuk berhitung dan memahami ekonomi kehidupan. Monumentalnya berdiri sekolah dalam rangka pencerdasan anak batak. Kondisi ini semakin menguat siginifikan ketika memasuki peradaban Kolonial.

Keempat, mejadikan pargodungan sebagai pusat inspirasi pembaharuan. Pargodungan yang asri, ditanami berbagai jenis tanaman produktip, sehat dan teduh telah menjadi contoh bagi masyarakat.

Kelima, dimana ada yang cacat, lepra, disingkirkan dari masyarakat, disana gereja melayani dan menyembuhkan mereka.

Keenam, harkat perempuan diangkat martabatnya melalui gerakan pendidikan bibelvrow.

Ketujuh, ditanamkan agar semua keluarga melakukan poti parasian untuk bersolidaritas jika dibutuhkan sesama sesewaktu.

Kedelapan , dilakukan advokasi bagi masyarakat Batak menghadapi tantangan eksternal seperti upaya menghadapi tantangan belanda.

Kesepuluh, dilakukan upaya untuk memperbaiki ekonomi masyarakat, dengan berbagai cara simpan pinjam.

4. Era Kolonial

Pembunuhan misionar telah menjadi catatan bagi penjajah, bahwa masyarakat Batak memiliki potensi menolak kehadiran Penjajah ( cf Dr F.H.Sianipar, Lyman dan Munson ). Catatan itu semakin diperkuat dengan kegigihan orang Batak menolak gerakan Islamisasi. Atas dasar itu gerakan perburuan terhadap Raja Sisingamagaraja serta pembunuhannya tahun 1907 turut membuka masuknya colonial menerobos kekuasaannya sampai ke Aceh, sekaligus menjadikan kawasan Tapanuli aman untuk diinternalisasi. Kehancuran peradaban Batak di Silindung dan Humbang mungkin perlu dikaji kenapa rumah Batak tetap bertahan, atau bahkan tak tersentuh di wilayah Toba dan Samosir.

Masuknya missionar turut menjadi penyumbang utama bagi penancapan kekuasaan penjajah Belanda di Sumatera Timur.[18] Orang batak yang Kristen sekaligus digunakan sebagai kekuatan ganda, sebagai kaki tangan di birokrasi dan juga kakitangan mengamankan kebutuhan pangan bagi dibukanya perkebunan di Sumatera Timur. Pendidikan menjadi kenderaan awal bagi masyarakat Batak melengkapi cita-cita kebatakannya,[19] tapi sekaligus menjadi boomerang bagi Belanda, karena dengan peluang itu orang Batak Toba di Simelungun memahami posisinya yang terjepit dalam hubungannya dengan Belanda disatu pihak, dan kepada etnis raja Simelungun yang memaksakan pemugutan pajak ganda..[20] Hal yang sama terjadi di Tapanuli pada awalnya pada tahun 1917 para missioner mendukung berdirinya Hatopan Kristen Batak untuk mengimbangi Sarikat Islam. Namun tidak demikian ketika terjadi upaya investor Belanda membuka lahan masyarakat Tapanuli untuk perkebunan teh.[21] Ahirnya dalam mempertahankan hak atas tanah, nampak sekali kesulitan missionar untuk membelanya sampai tuntas, sementara orang Batak Kristen yang baru terlebih dipinpin oleh Bapak MH.Manullang melakukan perlawanan keras. Dengan kegigihan sikap MH Manullang, maka banyak orang Batak bergabung menentang baik Belanda yang difahami musuh sejati[22] sebagai penjajah ekonomi dan politik maupun kemudian mencurigai sebahagian misionar Jerman sebagai penjajah rohani.[23] Puncaknya terjadi menjelang dan paska perang dunia kedua. Menjadi pertanyaan di fase ini, ungkinkah orang Batak sudah memahami dampak teori orientalis ?.

5. Era perjuangan kemerdekaan dan revolusi

Menarik justru di era ini terjadi suatu mujijat bagaimana Kristus yang dikenal masyarakat batak menjadi kekuatan yang membebaskan. Injil ternyata dapat berkembang tanpa penginjil dari Barat. Kondisi ini lebih jauh sebenarnya sudah muncul sumbunya dari adanya dinamika pengalaman kemandirian berpendapat bagi orang Batak, yakni ketika orang Kristen itu telah berhasil mendirikan sendiri Pardonganon mission Batak tahun 1896, penolakan perkebunan di Tapanuli, kemudian dilanjutkan ketika HKB didirikan tahun 1917 di Balige., Sehingga munculnya kebangkitan pada sumpah pemuda 1928 di Indonesia ahirnya bukan lagi hal yang baru bagi orang Batak Kristen yang menuntut kemerdekaan Indonesia.

Terjadinya perang dunia ke 2 dan kekalahan Jerman, turut berimplikasi (dari konteks internasional) langsung terkait dengan kehidupan masyarakat Batak. Tapi nampak tangan Tuhan yang kokoh melindungi umatNya Batak. Perjuangan Sisingamagaraja yang menjadikan masyarakat Batak sebagai bagian integral anti kolonialis, kemudian pendekar muda buah karya penginjil telah melahirkan sintesis manusia Kristen Batak-Indonesia yang dapat mendorong peran warga HKBP memasuki tahapan revolusi dan kemerdekaan Indonesia yang pluralis. Kehadiran tokoh-tokoh muda dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan di semua instansi, posisi strategis dan cabinet pemerintahan baru adalah suatu mujizat yang dasyat. Sebab bangsa yang dulunya terisoler, yang selama ini mungkin luput dari sejarah masa-masa kejayaan nusantara sebelumnya, kini pada waktu itu masyarakat Batak dapat sederajat dengan bangsa-bangsa lain bersama membentuk Negara Indonesia.[24] Walupun harus diakui bahwa perjalanan revolusi sempat pula memiliki implikasi politis terjadinya set back kecurigaan bagi masyarakat Batak ketika pecahnya pemberontakan PRRI yang dikomandoi oleh Kolonel Simbolon. Tapi potensi Batak seperti Dr TB Simatupang. Dr AM Tambunan di cabinet Sukarno, dsb tidak sempat menyeret masyarakat Batak keluar dari lingkaran transformasi Indonesia merdeka.

Kondisi diatas juga terjadi dalam peran pimpinan baru HKBP paska missionaries. Ephorus Sirait, kemudian dilanjutkan oleh Ephorus Dr Justin Sihombing muncul sebagai pimpinan yang bertipe gembala Sidang yang sangat rendah hati, tapi sekaligus sangat progresif. Progresif, karena mereka mampu keluar dari bayang-bayang guru Tuan Pendeta missionar dan mereka dapat merespon zaman. [25]Justru di era revolusi, HKBP dapat mempersiapkan diri memasuki Jubileum 100 tahun. HKBP secara monumental melakukan peran yang bersifat nasional dan internasional. HKBP mendirikan UHN, mendirikan sekolah unggulan, mendirikan pelayanan [26]diakonia serta mempersiapkan kapasitas ketenagaan guru (FKIP), mempersiapkan regenerasi baru pemimpin di HKBP ( banyak Dr teologi, Dokter dan Guru dikirim ke Jerman, Amerika dan India ). HKBP menyusun konfesinya, diterima menjadi anggota LWF, mendirikan STT Jakarta dan Siantar, ikut pendiri CCA, dsb. Bahkan secara simbolis dalam kondisi revolusi Presiden Sukarno hadir ditengah jemaat HKBP di Parapat tahun 1961. Juga patut dicatat peran politik HKBP untuk melibatkan diri dalam proses rekonsiliasi PRRI kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dan dalam partisipasi politik Pemilu pertama tahun 1955, kebangkitan partai local, partai Kristen sangat signifikan demokratis pertama di Indonesia.

6. Era Pembangunan orde Baru

Mungkin menjelang era peradaban baru Indonesia ini sesudah proses panjang revolusi, HKBP ahirnya nampak kurang kritis dalam peranannya memasuki era Pembangunan. Sebab sebelumnya HKBP sudah ada indikasi kuat dari Ephorus HKBP untuk memilih anti komunis, sehingga sesudah pemerintahan baru mencanangkan era baru yang dikenal dengan Pembangunan, maka segera HKBP ikut dalam arak-arakan mereposisi peran social politiknya. Kemandiriannya menjadi hilang, justru ketika HKBP mengikuti rumusan DGI (kini PGI) yang memaksakan diri harus berpartisipasi dalam pembangunan. Walaupun dalam prakteknya sangat enggan untuk mengikuti peran itu.

Teks dasar memasuki era Pembangunan ini sebenarnya sangat kritis, yakni mengambil teks dari Mk 1.15 pentingnya pemaknaan Injil pertobatan dalam memasuki Orde Baru, ( sangat Lutheris) dan Lukas 4.18-19 agar Injil pembebasan terhadap yang miskin, terbelenggu dan tertindas dilakukan secara konsisten.[27] Tapi aneh implikasi rumusan partisipasi ini tidak terjadi dalam kehidupan HKBP. Justru HKBP semakin menyingkir atau asketis keluar dari gerakan historisnya yang sarat sebelumnya di era missionar aktip dan dinamis dalam pencerdasan bangsa, inspirator dan transformator masyarakat. Trauma dengan cap komunis menjadikan HKBP lebih focus pada urusan-urusan rohani, implikasi teologinya tak menyentuh kehidupan masyarakat. Indikatornya dapat dilihat Parpem gereja-gereja [28]lain di Indonesia, bahkan di Sumatera Utara justru sudah berjalan sejak itu. Pada hal HKBP baru berkutat mulai tahun 1985 menjelang Jubileum 125 tahun dan puncaknya hanya terjadi beberapa tahun saja 1990-1992, namun gaungnya sangat terasa hingga hari ini. Energi HKBP barangkali lebih banyak dihabiskan dalam konflik internal ketimbang berperan kritis, kreatip dan dinamis di masyarakat. Terjadinya konflik internal yang melelahkan, jika dikaji kritis , maka kondisi itu lebih banyak menguntungkan penguasa dan gereja-gereja bahkan agama lain. Sehingga dominasi dan legitimasi HKBP mendapat konotasi buruk ditengah masyarakat di satu pihak, tapi justru di pihak lain sangat membanggakan karena adanya keberanian menolak kekuatan eksternal. Bahkan juga sangat menarik bahwa HKBP sudah 3 kali melalui fase konflik yang tidak mengalami schisma ( dapat melakukan proses rekonsiliasi ).[29] Karena itu kajian krisis yang terjadi di HKBP apakah tidak mungkin juga dibicarakan dalam rangka Jubileum ini, tentu bukan dengan pendekatan negatip, tetapi entah mungkin sudah saatnya krisis yang terjadi juga dikritisi secara positip dan kreatip.[30]

Kegiatan HKBP yang setengah hati dan amat hati-hati dalam pembangunan menjadikan dampak negatip berkepanjangan. Sebab ketika di awal tahun 80-an gereja-gereja diinspirasi oleh decade JPIC dengan teks pemahaman baru tentang Mk 16.15 tanggungjawab terhadap lingkungan. Maka segera terlihat bahwa HKBP sudah tertinggal. Kita tidak mampu lagi mengantisipasi pelayanan terhadap korban pembangunan, Disana kita melihat sebenarnya STT dengan lembaga studi dan pengabdian (LPP) sudah meulai begairah, dan ditopang oleh kepemimpinan ketika itu, tetapi dari internal STT justru menjengalnya. Ini juga menjadi benih lain semakin kwatirnya pemerintahan Suharto untuk mendiskreditkan HKBP dan dianggap sebagai pembangkangan sipil?. Sebab dengan adanya gerakan Pengmas, adanya LSM Kristen dan pimpinan HKBP yang nampak kritis menjadikan kegiatan LPP yang juga memperluas area kesadaran mengkritisi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh teknologi modernisasi yang eksploitatip. Juga menghadirkan peserta dari masyarakat pluralis, dan melampaui batas Sumatera Utara, ketika itu turut menghadirkan berbagai elemen dari Aceh, Jawa, dll telah memperburuk keadaan, sehingga sempat koramil Parapat atas perintah atasannya menginterogasi Panitia. Pada hal dengan kehadiran ketiga lembaga itu yang secara kritis telah mencermati kemajuan peradaban sudah terlalu jauh menimbulkan dampak negatip bagi masyarakat. Di saat seperti itu dapat difahami kenapa sebahagian pelayan HKBP ahirnya mengambil langkah dillematis dan dialektis merintis pelayanan di dalam dan di luar struktur gereja dan mendirikan lembaga prakarsa masyarakat.[31]

7. Era reformasi,demokrasi dan globalisasi

Kini kita memasuki peradaban baru era demokrasi dan globalisasi. Ketika perang dingin usai dan kemenangan jatuh ditangan Amerika. Banyak buku mendukung kejayaan neo liberalisme.[32] Banyak Negara komunis terpaksa membuka diri menerima konsepsi neo liebralisme.[33] Tetapi belum berlangsung lama, peta baru politik dunia bergolak. Sebab neoliberalisme nyata tidak bersahabat dengan alam, tidak bersahabat dengan penjaminan kemandirian berdasarkan nasionalisme dan kearifan local.

Oposisi saat ini menentang neoliberalisme, pasar bebas sangat beragam, baik karena alasan agama yang menentang moralitas kerakusan seperti digagasi Islam fundamentalisme. Terpilihnya Ahamadinejad di Iran sungguh menakjubkan dan menggetarkan. Ia terang-terangan menentang keangkuhan Amerika, dengan konsep yang jelas mempertahankan dirinya.[34] Selain itu ada juga bentuk perlawanan dari segi kajian idiologis yang beragam, maka perlawanan terhadap kepemimpinan Amerika pun menjadi sangat meluas, baik dikalangan sendiri Amerika, kroninya, maupun kemudian peluang baru bangkitnya kiri baru,[35] bahkan pembangkang anarchisme seperti Korea Utara.

Kritik internal mulai dari kalangan elitis, teolog dan praktisi seperti dikemukakan Soros misalnya dalam buku barunya ketika merayakan ulang tahunny yang ke 75 The age of Fallibility ( terjemahan zaman kenisbian ),[36] tidak mungkin masyarakat Amerika merasa aman tanpa kemampuan masyarakat memahami prinsip-prinsip masyarakat terbuka. Tapi karena kajian seperti ini tetap dalam bingkai mempertahankan Amerika yang tetap jaya, maka berbagai gerakan baru berkembang semakin menjadi jadi.

Kini tumbuh perjuangan untuk membangun pusat peradaban diluar dominasi Amerika dan Eropa yang semakin beragam. Kebangkitan Amerika Latin [37]yang diinspirasi Fidel Castro dari Cuba dan Hugo Chaves dari Venenzuela patut diperhitungkan yang telah berhasil memperluas kebangkitan idiologis yang membela kemerdekaan mandiri kawasan Amerika Selatan sebagaimana telah teruji keberhasilannya di Bolivia dipinpin oleh Morales dan di Nicaragua yang dengan hebat memilih Ortega yang pernah dikudeta atas dukungan Amerika . Demikian juga Rusia yang dipinpin oleh Vladimir Putin dan China yang kini sudah pulih mengembangkan peran internasionalnya di Eropa, Asia Amerika. Keterbukaan mereka menerima konsep pasar ala neoliberalisme ternyata hanya sebagai kenderaan terkendali untuk memenuhi kewajiban impas inklusifitasnya. Itu sebabnya perjumpaan mereka yang bekas gerakan kiri dengan bebas sekarang sudah memasuki pasar dunia dan membangun orbit pasar barunya mereka, termasuk akses ke timur tengah dan Afrika serta Asia.

Semua perkembangan ini mau tak mau berdampak dalam kehidupan gereja termasuk HKBP dalam konteksnya di Indonesia. Berbagai dampak negatip dari perkembangan demokrasi sangat terasa. Kebangkitan fundamentalisme, dan intrik Amerika di Indonesia turut menjadikan Indonesia menjadi sasaran arena konflik percobaan bagi kekuatan-kekuatan peradaban yang sedang bergolak. Itu sebabnya pluralisme agama tidak hanya terjadi dikalangan Islam, tetapi juga di gereja. Kebangkitan gerakan persekutuan doa secara terbuka melanda bangsa dan gereja kita. Gerakan mereka tidak cukup hanya pada usaha revivalisme di internal gereja, mereka juga berani merintis peran politik kaum fundamentalisme.

Jika kita memahami bahwa visi baru HKBP yang inklusip, terbuka dan dialogis dimaknai demikian, maka mestinya kita harus bergairah untuk menilai dan menguji perkembangan peradaban yang sedang terjadi. Apakah HKBP mampu menjadi gereja yang bersaksi dan berkomitmen melayani korban berdasarkan pendekatan kemanusiaan. Apakah gereja HKBP serius menangani pelayanan strategis terhadap anak-anak, remaja dan pemuda serta mahasiswa. Dapatkah gereja HKBP bersaksi sebagai gereja yang integral meujudkan perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan untuk semua. Apakah HKBP dapat membangun kebersamaannya dengan gereja-gereja oikumenis lainnya serta bersama masyarakat Batak lainnya dan bangsa Indonesia sebagai bangsa Tuhan yang diluputkan dari berbagai ancaman konflik asing, sehingga kita bisa menghirup udara segar Indonesia mandiri, jaya dan terbebas dari sekularisme, kerakusan dan kekerasan yang tidak manusiawi?

III. Kajian persiapan diri HKBP memasuki Jubileum 150 tahun

Dalam konteks terahr dari 7 peradaban diatas, kiranya ketika kita memasuki Jubileum 150 tahun menjadi situasi kondisional kita. Sehingga refleksi tahun Yobel mestinya harus menjadi konteks kita kini dan ke depan. Ada beberapa refleksi kenapa persiapan Jubileum 150 tahun menjadi sangat penting, mengkaji ke 7 peradaban diatas.

1. [38]Kajian teologi Tahun Jobel

Tahun Jobel bersumber dari pemahaman radikal akan pemaknaan Sabbat akar kata syavat “berhenti, “melepaskan”. Alkitab menetapkan bahwa satu dari 7 hari harus dindahkan sebagai hari suci bagi Allah. Ini terkait dengan pengindahan hari sabat dalam ke 10 Hukum ke 4 yang ditetapkan Allah sejak saat penciptaan. Karena itu makna pertama dari tahun Jobel adalah errata kaiatnnya dengan tatatertib penciptaan ( Kej 20.8-11 ). dan pelipatan gandaan perayaan 7 kali 7 tahunan dalam tradisi Jahudi. Sehingga radikalisasi pemaknaan itu dilakukan sekali dalam 50 tahun yang dikenal dengan perayaan tahun Yubel.

Imamat 25 mengacu juga ke pemaknaan syabbat yang mengharuskan tanah mendapat perhentian di tahun ke 7 sesudah selama masa 6 tahun masa tanam, pemeliharaan dan panen tanah dibiarkan tidak ditanami selama 1 tahun. Tanaman yang tumbuh sendiri di lading diperuntukkan bagi orang miskin dan sisanya bagi hewan liar. Untuk memahami agar bangsa Tuhan tidak kwatir akan kehidupan tahun ke 7, maka perlu dijamin bagaimana agar tahun ke 6 menyediakan cukup tuaian untuk 3 tahun ke depan ( Imamat 25.20f ). Puncak tahun-tahun Sabat perayaan dari 7 tahunan terjadi setiap tahun yang ke 50. Inilah Jubileum atau ibrani Yovel, domba jantan, atau dihubungkan dengan bunyi terompet, tanduk domba jantan- dengan membuyikan suara itu tahun Yobel dirayakan. Sedang simbolisasi perayaan itu adalah pembebasan agar hak milik yang digadaikan atau dijual dikembalikan ke pemilik aslinya. Itu juga termasuk dalam konteks pembebasan lunas terhadap, budak-budak.

Dengan pemaknaan ini, maka baik tanah, maupun hak hidup manusia adalah milik Tuhan. Ini juga mengichtiarkan bahwa baik tanah dan milik lainnya adalah yang diberikan Tuhan, sebab bangsa Israel sebelumnya adalah budak di Mesir.

Bertolak dari pemahaman itu kemudian, maka tahun Yobel juga bermakna suatu ikrar untuk menuntaskan masalah penghapusan kemiskinan, penghapusan penindasan. Hendaknya di hari ke 50 tidak ada lagi kemiskinan di antara kamu ( Deutronomy 15 )[39]. Ini berarti adalah tugas utama mereka yang berjubileum untuk melakukan legitimasi pelunasan hutang.

Kemudian radikalisasi pemaknaan ini, juga terjadi dalam radikalisasi pembahruan Ibadah. Ibadah bukan sekedar ceremony pusat pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan, tapi adalah sekaligus mengingatkan bagaimana umat Tuhan menyampaikan korban kepemilikan sebagai buah sulung kepada Tuhan serta solidaritas terhadap terjadinya proses keadilan, kesejahteraan dan keutuhan ciptaan untuk semua. Ini makanya dalam Mazmur 50.14 difahami ibadah syukur sebagai ungkapan pelunasan nazar kepada Tuhan. Ibadah mesti difahami proses peujudan keadilan seperti sungai yang mengalir, Amos 5. Puncak radikalisasi itu terlihat bagaimana Yesus dengan sengaja mengutip Yesaya 60, perlunya deklarasi Tahun Rahmat Tuhan sudah tiba yang nyata dalam Pemberitaan dan aksi Injil yang membukakan mata ( pencerdasan ), pembebasan kaum terbelenggu dan tertindas, serta pembebasan kaum tertindas, Lukas 4.18-19. Agar komitmen ini tidak dilupakan ole jemaat mula-mula, maka kembali Rasul Paulus merefleksikan makna pengakuan, bahwa dia adalah orang yang berhutang bagi orang Yahudi dan Yunani, yang pintar dan yang bodoh ,Roma 1.14.

Dari keseluruhan perayaan Jubileum dan radikalisasi pelunasan hutang baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, dan terhadap alam, maka itu berarti tugas berat utama kita adalah bagaimana dalam waktu kurang lebih 4.5 tahun lagi yang sisa, kita bisa menjelaskan dan menyadarkan warga HKBP akan panggilannya untuk turut membebayar hutang, baik kepada orang Batak dan yang bukan Batak, kepada mereka yang intellek dan yang butahuruf yang hingga kini belum tersentuh. Kajian teologi ini kiranya membutuhkan tugas mendasar kita bersama, agar kita tidak jatuh pada perayaan sesaat yang tidak berdampak jauh ke depan serta berkelanjutan.

2. Rekomendasi Rapat Praeses dan MPS

Seyogianya karena rapat Praeses dan MPS tahun yang lalu sudah sepakat untuk mengawali start pra Jubileum menjadikan tahun 2007 tahun Koinonia. Maka capaian utama mestinya menjadi jelas bagi seluruh warga HKBP dari kategorial SM- seluruh kategorial lain apa yang hendak diraih. Sehingga Jubileum 150 tahun menjadi perayaan Tahun Jobel sebagaimana diamanahkan Firman Tuhan dan Yesus sendiri.

Kita tahu eksistensi gereja tidak mungkin terlepas dari ketiga tugas panggilan gereja termasuk pendidikan. Tetapi dari akarnya gereja juga hanya menjadi kuat jika persekutuan dibangun dibatu yang kokoh yaitu Yesus Kristus, 1 Korintus 3.11. Koinonia sebagai pusat kehidupan gereja sangat jelas menjadi inspirasi bagi pelayanan marturia dan diakonia, bahkan pelayanan meja tidak bisa dikorbankan demi tugas yang dua lainnya.

3. Integrasi Tahun Jobel ,Koinonia yang marturis dan diakonis

Dalam Kissah Rasul-rasul 2 dan 4 menjadi sangat jelas, bahwa kebangkitan jemaat hanya menjadi kokoh jika persekutuan, termasuk persekutuan keluarga dari rumah ke rumah dan perjamuan Kudus terpelihara dan dihidupi jemaat. Berawal dari kesadaran gereja seperti ini, maka diakonia tidak akan mungkin menyadarkan jemaat berdiakonia dan bermarturia, jika perayaan akan kemurahan Tuhan yang telah mencurahkan darah dan mengorbankan diriNya untuk dunia tidak dihidupi dalam praktek hidup oleh gereja setiap waktu. Darisana kemudian tidak diragukan bahwa diakonia hanya menjadi terfahami menjadi bagian integral kehidupan gereja, jika berangkat dari kehadiran Kristus difahami yang membagikan tubuh dan mencurahkan darahnya untuk orang percaya. Jika gereja tidak memahami Kristus yang mati dan bangkit untuk keselamatannya, maka nischaya tumbuh kesadaran jemaat untuk memberi, berdiakonia. Konsekuensi ibadah pesekutuan yang benar, perjamuan Kudus yang dilakukan secara beraturan itulah nafas dan jantung jemaat untuk berani memahami bahwa apa yang dimilikinya adalah milik Tuhan dan wajar jika dipersembahkan untuk kepentingan bersama. Lebih jauh menjadi sangat transparan bahwa kehidupan persekutuan yang diakonia tersebut membuat orang melihat mujijat dan banyak orang yang melihat menjadi terpanggil dan bersaksi ( marturia).

Sehubungan dengan itu tahun 2007 kiranya kita perlu lebih giat untuk mengkaji pemahaman baru, sehingga makna Jubileum yang menjadikan Koinonia yang diakonis dan marturis menjadi nyata dalam kehidupan beribadah kita secara konprehensip dan integral. Telaahan dan arahan Alkitab tentang makna koinonia tahun Jobel mestinya menjadi focus utama kita dalam kehidupan beribadah di gereja, di wejk, di rumah tangga, yakni kajian teologi Tahun Jobel yang diakonis dan marturis. Karena itu tahun 2008 kiranya menjadi gerakan mengimplementasikan atau juga masih mungkin untuk lebih memperdalam kajian teologi bagaimana marturia diselenggarakan ke seluruh dunia dan keseluruh mahluk. Demikian pula tahun 2009 menjadi jelas bagi pelayanan diakonia untuk merintis capaian symbol-simbol perayaan pembebasan kepada mereka yang miskin, terpenjara, buta, tertindas, terbelakang, dsb. Kegiatan-kegiatan konkrit pelayanan diakonia di semua aras menjadi tema utama tahun 2009. Istimewa tahun ini secara simbolis dapat sekaligus merayakan Jubileum Ompui Dr I.L.Nommensen 175 tahun. Kemudian 2 tahun terahir sebelum perayaan Jubileum punak perayaan Jubileum HKBP yang ke 150 tahun akan bertumpu pada kegiatan melegitimasi berbagai simbolisasi monumental dalam kehidupan generasi baru HKBP istimewa bagi kehidupan sekolah minggu, remaja dan pemuda. Sebab mereka akan menjadi pelanjut estafet berikut diharapkan menjadi saksi hidup yang turut menyaksikan Jubileum 150 tahun dan dengan arah serta dampak yang jelas menyongsong Jubileum HKBP 200 tahun 2061 mendatang.

Agar waktu yang sisa tidak hilang begitu saja, maka secara singkat dibawah ini akan diusahakan refleksi teologi Tahun Jobel. Jika masih mungkin memang ada baiknya dilakukan tahun ini seminar terbatas untuk menyusun buku pengangan telaahan Alkitab tentang tahun Jobel . Agar mulai tahun ini kita mulai mempersiapkan dasar yang kokoh bagaimana selayaknya kita merayakan Jubileum 150 tahun yang bersejarah tersebut. Dengan teologi yang benar, sekaligus telah membantu kita memikirkan konsepsi dan bentuk pelunasan hutang, termasuk mungkin menjadikan tindakan rekonsiliasi kepada gereja-gereja lain yang Batak terintegrasi dalam Jubileum 150 itu. Kajian mungkin dapat dilakukan dengan pemahaman seperti dibawah ini.

Pertama, perlu disadari bahwa tahun Jobel memang hanya terjadi sekali dalam 50 tahun, demikian seterusnya setiap 50 tahun berikut. Sesudah itu kita harus kembali pada perayaan normal setiap 7 tahun sekali selama 7 kali dan hari kelima puluh kembali menjadi Tahun Jobel atau Jubileum. Untuk mengingat makna itu pula kita setiap minggu diingatkan agar sekali 7 hari kita berhenti merayakan tindakan yang dilakukan Tuhan bagi dunia dan kita. Karena itu tidak cocok jika ada perayaan 25 tahun kita menyebutnya Jubileum, lebih cocok sebagaimana sering diwariskan di gereja dengan sebutan perayaan pesta perak.

Kedua, implikasi dari pemaknaan ini tentu akan membuka jalan bagi kita untuk menggali teks-teks lain yang terkait dengan teks-teks pelunasan hutang kepada sesama, pembebasan tanah dan ekspolitasi terhadap lingkungan. Bahkan juga pelunasan nazar kita yang secara khusus kepada Tuhan ( Mz 50.14 ). Kita perlu mencari dari Perjanjian lama dan Perjanjian Baru teks-teks mutiara yang berharga. Jika di Perjanjian lama mungkin tahun Jobel mempunyai indikasi yang sangat radikal, kritis dan sangat revolusioner menggunakan kata pelunasan berbagai hutang kepada mereka yang berhutang dan nazar kepada Tuhan. Maka di Perjanjian Baru lebih berimplikasi kepada gerakan pembebasan kepada mereka yang miskin, terbelenggu dan terindas ( Lukas 4.18-19,). Deklarasi pembebasan yang diungkapkan Yesus sekaligus menggenapi janji Tuhan dalam Perjanjian lama yang diradikalisasi dalam tindakan konkrit pembebasan berbagai bentuk kemiskinan, penindasan sturuktural. Berbeda dengan Paulus yang mengutamakan komitmen dulu, baru proses pembebasan. Pengakuan dulu baru tindakan pergeseran structural. Kita perlu lebih dulu mengakui adanya hutang kita. Saya adalah orang yang berhutang ( Roma 1.14 ). Kepada Yahudi dan Yunani, kepada yang pintar dan yang bodoh.

Ketiga, dengan pemaknaan dan kajian teks langkah berikut, kita memang perlu melakukan seminar teologi dan kemungkinan implikasinya dalam capaian legitimasi monumental.

4. Kajian Perayaan Jubileum 50 tahun dan 100 tahun

Jika pada tahun Jobel I tahun 1911, Jubileum 50 tahun, ada 3 kekuatan yang sedang berkecamuk ( masirapusan ), yakni kekuatan peradaban budaya batak yang ingin eksis sedang digoyang oleh kekalahan Raja Sisingamangaraja. Gereja Batak ketika itu sedang gencar menjadikan dirinya mengaek pengaruh tokoh masyarakat Batak dengan cara mengobati luka masyarakat Batak akibat luka yang dilakukan Belanda sedang mengalami kesulitan untuk dibawa kepada Kristus, sedang pada waktu yang sama pemerintahan colonial selain merayakan kemenangannya menaklukkan masyarakat Batak juga ingin menancabkan kukunya agar hukum colonial dapat diterima masyarakat. Paska Jubileum terlihat kebangkitan nasional Batak yang ingin merdeka dari segala bentuk penjajahan Belanda dan penjajahan rohani. Karena itu bangkit semakin gencarnya usaha mendirikan gereja Kristen Batak tanpa pengaruh missionar, termasuk di berbagai kegiatan pelayanan yang melembaga.[40], istimewa di berbagai bidang pelayanan kesehatan, pendidikan dan keperdulian terhadap mereka yang tersingkir, termasuk pendidikan teologi. Sampai tahun 1911 sudah melayani 637 orang guru dan Pendeta pribumi 29 orang.

Selain itu di bidang pelayanan marturia sudah terbentuk sejak tahun 1899 Pardonganon Mission Batak yang diprakarsai oleh Pdt Henok Lumbantobing. Perluasan penginjilan diutus ke sekitar danau toba, pulau samosir, juga ke Pakpak Dairi. Tahun 1911 lembaga ini sudah dapat mengumpulkan dana yang signifikan membangun semangat kemandirian. Perkembangan gereja seiring dengan perkembangan zaman sudah terbuka pelayanan ke Sibolga, Padang dan Belawan. Tanggal 7 Oktober 1861 adalah konperensi Penginjilan pertama di Sipirok yang merumuskan pentingnya kesatuan dalam pelayanan, kesaksian yang holistic.

Tanggal 7 Oktober 1911 seluruh umat Kristen Batak merayakan hari jadi kekristenan pada tiap-tiap jemaat. Dan dalam rangka persiapan Jubileum sudah dilakukan tanggal 7 Oktober 1905 perayaan untuk menyongsong harijadi ke 50.

Di tahun Jobel kedua tahun 1961, Jubileum 100 tahun, peran gereja Batak menjadi sangat dominant didukung oleh peradaban Batak, keyakinan dirinya dan kemampuannya menjadi gereja yang berperilaku nasionalis dan ingin mendukung kebijakan Negara yang non blok.non diskriminatip, bebas dari SARA ciptaan colonial Belanda. Paska Jubileum ini terlihat ketidakkonsistenan gereja menjadi gereja yang bersaksi ditengah bangsa yang sedang mencari jati dirinya. Terlihat adanya sikap gereja yang lebih memihak politik Barat ketimbang menerima politik dari Timur. Itu dapat dilihat dari sikap Sinode HKBP yang melihat komunis sebagai kekuatan atheis, tanpa melihat ancaman lain dari gerakan sekularisme dan emansipasi dari Barat. Ketidakkritisan ini menjadi dasar kenapa kemudian gereja HKBP menjadi korban politik Orde Baru. Makanya langgam kebijakan Negara jauh lebih banyak mendikte kehidupan beragama gereja kita ketimbang dari kebijakan kita sendiri ( ta tortori na so gondang ta, ia gondang tan dang tatortori ). Akibat dari keadaan itu, perilaku pioniritas, inspirasi gereja sebagai kekuatan transformator masyarakat tidak terjadi di semua aras pelayanan, baik di desa maupun di kota. Kegiatan kita jauh lebih banyak diilhami oleh warga jemaat, tokoh masyarakat, pemerintah ketimbang motivasi Injil dan pergumulan teologi kita.

IV. Out put dan Impact kegiatan menjelang hingga perayaan tahun Jobel tahun 2011

  1. Kenapa dibutuhkan

Tahun Jobel 150 tahun menjadi refleksi pelayanan, karena banyak masalah

Pada prinsipnya ada dua hal yang mendorong. Pertama adanya akumulasi hutang yang tak terbayarkan pada Jubileum sebelumnya, yakni hutang kita baik kepada jemaat, masyarakat dan bangsa yang sudah dijanjikan dilakukan sesudahnya.

Kedua, semantara kita sedang menghadapi tantangan baru baik dalam berbangsa yang saat ini mengobarkan gerakan demokrasi, dan tantangan eksternal yang sangat dasyat berupaya menghilangkan nasionalisme dan kearifan local yang lebih dikenal dengan tantangan golobalisasi.

  1. Apa yang segara dilakukan dan akan dilakukan dari tahun ke tahun 2011

2.1. Seminar tahun 2007 -2008

2.1.1. Seminar Penilaian sejarah Batak dan Kekristenan

2.1.2. Seminar Relasi kritis Gereja-Negara dan Gereja-Masyarakat

2.1.3. Semiloka gereja mengkritisi Demokrasi dan Globalisasi

2.1.4. Semiloka penulisan refleksi teologi Tahun Jobel

2.2. Penulisan buku sejarah 2008-2009

2.2.1. Apa hutang yang belum dilunaskan paska Jubileum 50 tahun- 100 tahun.

2.2.2. Apa hutang yang belum dilunaskan paska Jubileum 100 tahun-150 tahun.

2.2.3. Proyeksi pelayanan 50 tahun ke depan, HKBP yang mengakar di dalam Kristus dan menjadi gereja yang mensejahterakan secara inklusip.

2.2.4. Pengembangan dan penataan kelembagaan pelayanan HKBP paska Jubileum 150 tahun HKBP. Kemandirian teologi, daya dan dana.

2.2.5. Peran STT untuk mendukung perobahan HKBP menjadi gereja yang inklusip ke depan.

2.2.6. Napak tilas perjalanan Nommensen

  1. Simbolisasi monumental mulai 2007-2011

3.1. Peujudan motto diakonia sejahtera masyarakat sejahtera gereja di semua aras, istimewa di distrik dan propinsi.

3.2. Peujudan new era of mission HKBP minimal mengembangkan pelayanan missi untuk jemaat/masyarakat terisoler, masyarakat nelayan, masyarakat buruh, migrants, pedagang, petani, pegawai negeri, pengangguran, pengusaha, dsb .

3.3. Adanya usaha mengalang Jubileum bersama sambil mendiskusikan kemungkinan rekonsiliasi diantara gereja-gereja Batak

3.4. Peujudan proyek simbolisasi pusat kegiatan yang menampakkan HKBP menjadi gereja yang inklusip di semua unit pelayanan hatopan, distrik dan jemaat. HIV Aids, CUM,Pusat pertanian mix farming, Pusat Rehabilitasi narkoba. Pusat ritrit di berbagai propinsi, dsb.

3.5. Pemberian award bagi gereja dan pelayan yang berhasil memulihkan pargodungan sebagai sumber inspirasi pembaharuan di aras jemaat, resort dan distrik.

3.6. Pemberian award Jubileum 150 tahun bagi jemaat yang berhasil mendirikan berbagai fasilitas pusat latihan di propinsi, kabupaten, mendirikan lembaga pendidikan, pembangunan gereja dan rumah pelayan yang inkulturatip.

3.7. Melegitimasi berbagai kegiatan lembaga yang berupaya membangun program secara terencana, berkesinambungan dan berkelanjutan. Minimal menjadi jelas kelembagaan Seminarium Sipoholon dengan pengelolaan yang konprehensip. Adanya lembaga museum HKBP dengan pengumpulan fosil yang tercecer saat ini di jemaat, distrik serta adanya komitmen pimpinan HKBP mengumpulkan barang-barang persembahan dari jemaat dan distrik yang dikunjungi. Adanya pusat-pusat latihan di berbagai distrik. Mendirikan lembaga Pastoral Counseling dan lembaga-lembaga lain yang dibutuhkan.

3.8. Adanya konsultasi kemitraan di semua aras yang semakin inklusip ke semua gereja-gereja di seluruh dunia.

3.9. Menyusun Ibadah perkunjungan Pastoral yang menekankan pembaharuan memahami ibadah Perjamuan Kudus, penekanan pada makna Perkunjungan Pastoral Pimpinan, dan untuk ibadah sesuai unit pelayanan yang khas.

4. Penataan dan pengembangan jemaat yang diakonis

a. Kelembagaan pelayanan diakonia berbasis jemaat

b. Kelembagaan pelayanan diakonia di aras distrik

c. Kelembagaan pelayanan diakonia di aras Propinsi

d. Koordinasi pelayanan diakonia di aras hatopan

V. Kesimpulan

Perayaan pra dan paska Jubileum 150 tahun, ditandai dengan upaya menunjukkan rasa syukur, karena kita mengakui anugerah Tuhan yang dilimpahkan ke HKBP yang telah membawa kita umatNya keluar dari berbagai bentuk kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Juga kita mensykuri karena umatNya HKBP telah dapat hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang maju, bermartabat dan modern.

Karena rasa syukur tersebut, maka pada waktu yang sama kita mengingat masih banyaknya dosa, dan barangkali berbagai pelanggaran kita yang menimbulkan berbagai bentuk schisma yang butuh pemulihan rekonsiliatip. Sehingga setiap warga HKBP, di semua aras kehidupan kiranya merasa wajib dalam merayakan Jubileum 150 tahun sekaligus harus mengakui kita adalah orang yang berhutang. Kita berhutang kepada orang Batak dan bukan Batak, kita berhutang kepada mereka yang meninggalkan HKBP, dan yang tetap di HKBP. Sebab mereka sering cemas dan gelisah melihat pelayanan kita yang belum memelihara jiwa dan kehidupan mereka. Kita berhutang kepada mereka yang pintar, yang bijak, tapi juga berhutang kepada mereka yang miskin, tertindas, terbelakang ( sebagaimana dinytakan Paulus dalam Roma 1.14 )

Sehubungan dengan itu, maka kiranya dalam Jubileum ini semua warga HKBP di semua aras institusi dan pelayanan kiranya wajib membayar hutang kepada Tuhan dengan berbagai cara yang memungkinkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang ada. Jika selama ini kita lalai dan sering tidak memuliakan NamanYa dalam kehidupan kita kepada sesama, bahkan karena tidak berbuat yang baik walaupun ada kemampuan untuk itu, maka pada Jubileum 150 tahun inilah kita bernazar kepada Tuhan untuk melunaskannya ( Mz 50.14 ). Dalam Jubileum 150 tahun ini sekaligus juga perlu kita akui hutang-hutang warisan kita yang belum tuntas dilunaskan. Antara lain untuk memikirkan berbagai bentuk pelayanan apa yang baik sudah dicapai dalam Jubileum sebelumnya Jubileum 50 tahun, 100 tahun, 125 tahun, namun hingga kini sudah kita abaikan atau mungkin pula tidak dilunaskan. Marilah semua kita memikirkan bentuk pelayanan yang mencerdaskan umat dan anak bangsa, yang Batak dan bukan Batak. Mari kita upayakan agar pargodungan tetap menjadi pusat trasnformasi social bagi masyarakat sekitar serta memperbaiki tanggungjawab kesejahteraan, kesehatan, pendidikan untuk semua ( Peace, justice dan integrity of creation for all ).

Mari kita mengkoreksi sikap dan kelalaian kita selama ini untuk menghitung hutang kita, sebab masih banyak hal-hal negatip yang mungkin sudah terjadi pada Jubileum sebelumnya, namun hingga sekarang masih kita pelihara dan belum ada upaya maksimal untuk mengkoreksinya, antara lain untuk menganalisis konflik dan schisma yang selama ini terjadi. Rekonsiliasi mestinya diikuti dengan tindakan perbaikan segala bentuk hubungan dan pelayanan terhadap gereja seperti GMB, GPKB, GKPI, GKLI, GPP, dsb.. Visi HKBP dan missinya yang inklusip, terbuka dan transparan mesti diterjemahkan semua bidang pelayanan menjadi program yang mensejahterahkan, membuka wawasan pelayan secara dimensional ( Epesus 3.18 ) ditengah masyarakat,bangsa,Negara,bahkan dunia.

Hal-hal itulah hutang kita yang tersembunyi yang perlu kita ungkapkan agar Tuhan yang pemurah mengampuni kita. Dengan demikian dalam perayaan ini kita perlu berdoa agar dosa-dosa nenek moyang kita dan dosa kita kepada Tuhan dan sesama, serta bagi bangsa ini diampuni Tuhan. Dalam kaitan ini barangkali baik sekali jika dikaji bentuk ibadah Kebaktian permohonan maaf kepada jemaat atau kepada masyarakat miskin, yang papa, yang tertindas dan terbelakang yang selama ini tanpa sadar atau dengan sadar kita lalaikan dalam pelayanan kita dan ke depan kita berjanji untuk konsisten memperbaikinya. Karena itu program ekonomi rakyat, pemberdayaan kapasitas pelayan dan warga, pemulihan pargodungan sebagai sumber inspirasi pembaharuan, beasiswa, dukungan pelayanan di berbagai bidang missi kehidupan kiranya menjadi prioritas kegiatan kita. Pengadaan dan pemberdayaan pusat latihan di semua lembaga, di semua distrik, bahkan jika mungkin di semua Provinsi di Indonesia kiranya menjadi simbolisasi Jubileum 150 tahun. Juga mungkin nama institusi ,unit pelayanan, atau pusat latihan ke depan sudah tiba saatnya untuk diredefenisi, direvitalisasi sehingga mengungkapkan adanya pengakuan memakai identitas baru gereja Batak. Mungkin nama lembaga Dr Justin Sihombing, St Lucius Siahaan, dll sudah layak dipertimbangkan.

Melihat gejolak dunia yang semakin sekuler, maka mungkin ada baiknya HKBP mengkaji ulang konsep kepemimpinannya yang semakin berjangka panjang. Kepemimpinan yang lebih lama, sehingga kepemimpinan gereja HKBP terbebas dari kepentingan kuasa, uang dan egoisme. Bagaimana agar keberadaan HKBP hanya eksis jika berdampak melayani dunia, memberdayakan korban, dan memberdayakan spiritualitas mereka yang tertindas, terbelakang, dst. Dalam kaitan ini pembaharuan ibadah Pastoral pimpinan menjadi mutlak dilakukan. Pembaharuan ibadah yang semakin jelas, bagaimana struktur pemimpin Ibadah nyata dari peran Pastoral pimpinan dari hatopan, distrik,resort dan jemaat. Ini dapat dinyatakan dalam setiap ibadah, tapi secara jelas dalam perkunjungan Pastoral pimpinan terutama Ephorus dan Praeses perubahan melalui pendekatan menjadi terindikasi dalam Jubileum 150 tahun yang akan datang.

Tuhan memberkati kita.

Pearaja Tarutung, 18 April 2007.

Pdt Nelson Siregar


[1] Arnold Toynbee, Mankind and Mother Earth,terjemahan, Pustaka Pelajar, Yokjakarta 2004,hal v-x

[2] Kita bandingkan dengan pandangan yang diungkapkan Sitor Situmorang, Toba Na Sae, sejarah lembaga social politik, abad XIII-XX, Kommunitas Bambu,Jakarta Selatan,2004, hal 9-15. Ada tiga peristiwa yang merupakan intervensi fisik yang merubah wajah Toba secara total, yaitu pembangunan trans sumatera (1917-1920), pendinamitan sumbat di hulu sungai asahan(1905) dan pemotongan tanah genting menjadi kanal di Pangururan(1906). Ini disebut juga revolusi kebudayaan yang mengakibatkan perubahan orientasi geografis dari pesisir barat beralih ke pesisir Timur. Perubahan spiritual dari gagasan dunia ahirat agama asli beralih ke teologia Kristen dan Islam. Perubahan cara berfikir yang banyak terpengaruh mitologi dan faham magic, beralih ke pemikiran rasional-ilmiah. Perubahan dari ekonomi murni agraris dan tertutup, kea rah cita-cita kemajuan ( hamajuon ), membuka pintu menyambut zaman baru ( modern), hal 11.

[3] Dr F.H.Sianipar, Suatu Problem tentang metode theologia dalam ketegangan yang dialami masyarakat Batak Kristen masa kini, 7 Oktober 1973, Lembaga Penelitian Uni HKBP Nomensen, P.Siantar, hal 10-15.

[4] Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, Arti dan fungsi Tanah bagi masyarakat Batak, KSPPM 2004, hal 43. Dalihan Natolu adalah system kekerabatan bagi masyarakat Batak, karena menjadi alat legitimatip bagaimana tanah dimaknakan.

[5] Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M.Siahaan, Orientasi nilai-nilai budaya Batak, Jakarta Sanggar Willem Iskandar, 1987, hal 3-5. Dalihan natolu dapat menghasilkan konflik yang tinggi. Tetapi pada pihak yang lain, dalihan natolu merupakan potensi yang mampu mereduser atau mengeliminir konflik. Dan di dalam konteks sedemikian inilah dinamika Batak atau orang-orang Batak. Sebab Dalihan Natolu dihayati sebagai system kognitip yang memberikan pedoman bagi orientasi setiap orang Batak, hal 4.

[6] Kita bandingkan dengan Seminar Roh dan Pelayanan dalam gereja, Universitas HKBP Nommensen, di Kampus Medan, tanggal 4-8 April 1978 yang sarat dengan tema-tema kontekstual, antara lain, Tondi menurut habatahon, hal 7,Tondi dalam pengertian Kebudayaan Batak dan gereja-gereja disampaikan Dr H.Parkin, hal 30-45.Peranan kaum Awam dalam kepemimpinan gereja, Prof Dr FH Sianipar ,hal 79-95, dll.

[7] Lihat kesaksian Pdt Prof P.D.Latuihamallo, dalam buku kenangan, Pelayanan Komtemporer dalam masyarakat majemuk, Ds Dr Tunggul S.Sihombing, Jakarta 2002, terbitan khusus, hal 181-186, yang mengakui kehebatan orang Batak memulai kesadaran berbangsa, baik dalam kesungguhan belajar di dalam dan luar negeri, seperti Mr Dr Todung Sutan Gunung Mulia. Maupun 3 orang Batak angkatan pertama Hogere Theologische School (HTS) di Jakarta, yakni Paido Sarumpaet, Karimuda Sitompul dan Tunggul Sihombing, hal 181. Demikian juga kesaksiannya tentang guru SDnya tahun 1927 di Makasar, yakni Condradjn Gultom dan Bapak Sitompul, hal 182. Bahkan kesannya tentang orang Batak sangat melekat dalam ingatannya tentang kritik gurunya, daripada belajar Nyanyian Belanda lebih baik belajar lagu bangsa kita sendiri,”Marbubu sipogo, di toru ni liang batu. Aha ma dapotsa, lakitang na marbatu. Tong i, tong i, tong, tong i, tong i, tong”.

[8] Dr Hassan Hanafi,Oksidentalisme, terjemahan, sikap kita terhadap tradisi Barat,Pramedina Jakarta, 2000.

[9] Kita bandingkan dengan buku Benenict Anderson,Imagined Communities,terj Insist,Jokja, 2001. Disana disebutkan oleh Daniel Dhakidae yang menyampaikan dalam kata pengantar bahwa reformasi Luther menjadi titik penting akar perkembangan nasionalisme Jerman, karena disana universalisme ditantang, suverinitas Paus dan Kaisar dibongkar, kemerdekaan bangsa bersemi. Semuanya tidak mungkin terjadi tanpa dukungan oleh penemuan mesin cetak puluhan tahun sebelumnya, tahun 1455, hal xxvi.

[10] Dr JR Hutauruk, Sejarah HKBP, Jubileum 125 tahun,Ktr Pusat Pearaja Tarutung 1986.

[11] Dr Harry Parkin,Batak Fruit of Hindu thought,(The Christian literature Society)Madras, 1978,hal 3-5.

[12] Dr Walter Lempp,Benih Yang tumbuh,Satyawacana,Semarang, 1976, hal 109, raja-raja Batak tidak sudi menerima karena tidak sudi merobah adapt istiadat.

[13] Mangaraja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao, Tanjung Pengharapan, hal 56-58

[14] Dr FH Sianipar, Lyman dan Munson, Pematangsiantar, hal 23.

[15] JP Sarumpaet, Pemikiran tentang Batak, UHN Nommensen ,Medan 1986, hal 228-239

[16] Dr Walter Lempp, of cit, hal 110. Dalam kaitan ini kemudian masuknya missionar juga dipandu oleh studi oriantalis. Sebab hasil usaha studi van der Tuuk ini kemudian yang dijumpai oleh Dr Fabri inspektur RMG ketika berkunjung ke Belanda tahun 1859.

[17] JT Nommensen,Ompoei Toean Ephorus Dr Ingwer Lodewijk,terbitan ulang, Laguboti 1921, hal 38-101.

[18] Juandaha Raya.P.Dasuha dan Dr Martin Lukito Sinaga,Tole den Timorlanden das evangelium, sejarah 100 tahun Pekabaran Injil di Simelungun, 2 September 1903-2003, yang secara gamblang juga memandang kedatangan Nomensen difahami salah oleh masyarakat Simelungun, hal 129 ff. Sangat aneh Nomensen yang sangat respek melakukan pendekatan budaya ke tanah Batak tidak dilakukan sama kepada masyarakat Simelungun sehingga ada kesan adanya penjajahan melalui budaya kekeristenan.

[19] Pdt DR.A,Lumbantobing,Makna wibawa Jabatan dalam gereja Batak,BPK Jakarta 1992, hal 79, melalui pendidikan seseorang dapat menambah sahalanya. Sebab melalui pendidikan itu anak-anak mendapat kesempatan bekerja dan memperoleh kedudukan di kantor pemerintah yang tidak hanya memberinya upah yang besar, tetapi juga kuasa,kehormatan dan sahala. Sehngga kesempatan itu digunakan Belanda untuk menjamin tegaknya politik Pax Hollandica.

[20] Juandaha Dasuha dan Dr Martin Lukito, of cit, hal 88-90, yang pada awalnya Belanda membiarkan adanya pembiaran konflik antara etnis Toba dan Simelungun yang juga diinisiasi oleh para missioner. Kritik keras buku ini sangat jelas memaparkan adanya konspirasi diantara keduanya, sehingga bekas kepdedihan hati berlanjut hingga sekarang. Inilah hutang orang Batak ke orang Simelungun.

[21] Lance Castle, kehidupan Politik suatu Keresidenan di Sumatra, Tapanuli, 1915-1940,Gramedia 2001, hal 105. Nampak para missionar sangat ketakutan, karena missionar meminjam dari pemerintah colonial. Sehingga missionar berbalik mendukung niat pemerintah untuk membuka usaha perkebunan di Tapanuli. Kondisi ini membuka kesadaran bagi umat HKB untuk berjuang mempertahankan haknya atas tanah.

[22] Lance Castle, ibid , hal 96.

[23] Lance Castle, of cit, hal 106, karena para missionaries sendiri tidak menilai tinggi moral orang-orang yang mereka Kristenkan. Di Seminari demikian menurut Warneck, keinginan pribadi dipatahkan tanpa ampun. Menentang, menolak bahkan mendebat perintah tidak diperbolehkan., hal 107.

[24] Bandingkan kesaksian Dr.T.B.Simatupang, Iman Kristen dan Pancasila, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989, hal 50-55, yang melihat bahwa di era transisi dari colonial Belanda-Jepang hingga ke revolusi banyak orang Batak jemaat HKBP yang turut menjadi korban perjuangan idiologis di satu pihak seperti Amir Syarifuddin, L.M.Sitorus Sekum PSI dan B.O.Hutapea Direktur Sekolah Tinggi Kader PKI. Tapi dilain pihak mengakui dirinya tetap berpendirian di dalam gereja, karena itu tetap dapat melanjutkan kesaksiannya.

[25] Dr.JR.Hutauruk, Sejarah 125 tahun HKBP, of cit, hal 48-107, secara rinci diuraikan bagaimana HKBP mengisi kemerdekaan, turut merespon kondisi perkembangan politik, istimewa sudah tanggap sejak tahun 1950 terhadap idiologi komunis serta menunjukkan sikap tegas terhadap idiologi tersebut disampaikan dalam sinode tahun 1956,hal 49. Juga sikap HKBP sangat jelas merespon peran sosialnya yang secara konkrit membantu korban revolusi akibat pemberontakan PRRI, mengemban tugas di bidang ekonomi dan politik, hal 48. Merespon aliran agama dan schisma yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan dalam hubungannya dengan HKBP. Dijajakki hubungan dengan gereja tetangga, dengan gereja HChB,HKI,PKB dan Mission Batak. Memberi dukungan manjae ( mandiri) gereja GKPS, membuka hubungan gereja dalam negeri dan luar negeri. hal 65-68.

[26] Lihat kesaksian Dr Latuihamallo, Pelayanan Kontemporer dalam masyarakat, Buku kenangan Dr Tunggul Sihombing, hal 183, di Sidang MPRS 8 Maret 1967 dalam kapasitas Dr Tunggul Sihombing mewakili gereja Katolik dan Protestan menyatakan, “sebagai seorang wakil golongan Protestant/Katolik yang biasanya diasuh dengan sikap suka mengampuni kesalahan dan kekurangan orang lain, tentu saja kami mengampuni perbuatan Bung Karno secara pribadi. Akan tetapi bilamana perbuatan itu telah ternyata membahayakan idiologi dan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia, maka adalah tugas dan tanggungjawab kita semua untuk menyatakan yang salah sebagai yang salah dan yang benar sebagai yang benar.”. Tapi kemudian tahun ketika beliau diwawancarai antara tahun 1980-1982 sebagaimana dikutip oleh penyunting buku kenangan ini menyatakan,”nayata sekali ia menunjukkan kekecewaannya terhadap beberapa aspek kehidupan bangsa dan Negara. Bukan hanya karena soal korupsi yang justru semakin merajalela di segala lapisan pemerintahan yang merisaukan hatinya, tapi juga dalam soal-soal hokum dan perundang-undangan yang sering berbaur dengan soal korupsi”, hal 75-76.

[27] Drs W.Lalisang,Motivator Desa, Dharma Cipta DGI, BPK 1978, menjelaskan bahwa Sidang Raya ke VII di Pematangisntar tahun 1971 yang memberi tugas dan pekerjaan Dharma Cipta di dalam mendorong partisipasi gereja dalam pembangunan sampai tahun 1976 yang sudah berjalan program pembangunan masyarakat adalah GKPB,GEPSULTRA,GKE,GKPI,GKSS ,GMIBM,GKJW,BNKP,HKI,GKPG,GKI Irja sedang gereja lain masih dalam persiapan dan penjajakan, hal 241.

[29] Bandingkan Nelson Siregar dalam sumbangan tulisan dalam buku kenangan Pdt Edison S.Simanungkalit Tanganku hanya Dua, hal 77.80, yakni ketika HKBP merespon Sidang Raya tahun 1971 dalam kaitannya dengan partisipasi dalam pembangunan. Lalu HKBP menyusun Master Planning 2 tahun HKBP. Gerakan ini diprakarsai bersama teolog dan kaum awam untuk mengembangkan peranan HKBP yang maju dan modern. Gelombang ini mengalami kemandekan ketika ada intervensi pemerintah. Kemudian Gelombang Kedua terjadi ketika paska Jubileum 125 tahun adanya gerakan yang disebut paritrit, lalu karena kurangnya penanganan yang Kristiani, maka lagi-lagi ada campur tangan dari warga HKBP yang kebetulan juga berada di lingkaran kekuasaan. Gelombang ketiga, ada gerakan untuk merumuskan peran gereja di semua aspek kehidupan, lalu disusun Garis-Garis Besar kebijaksanaan pembainaan dan pengembangan HKBP (GBKPP-HKBP). Sebagai lanjutan dari krisis gelombang kedua yang tidak terselasaikan, maka krisis berlanjut dengan krisis campur tangan militer dalam urusan kepemimpinan di HKBP.

[30] Penyunting Dr Einar Sitompul, Gereja di Pentas Politik, belajar dari kasus HKBP, Yakoma PGI, Jakarta 1997, mungkin dapat dibandingkan, sebab Einar melihat krisis HKBP terlebih tahun 1992 melihat konteks krisis dalam pentas gereja-gereja dan politik. Karena itu krisis di HKBP dilihat dari kajian HAM, pelanggaran Hukum dan demokrasi, hal xiv.

[31] Lihat Nelson Siregar dalam rangka Jubileum 125 tahun HKBP, artikel dalam buku “Pemikiran Tentang Batak “, terbitan Universitas HKBP Nommensen, Medan, 1986,hal 28-47 yang menjelaskan kenapa para pelayan dari gereja-gereja Sumatera Utara mendirikan KSPPM, suatu lembaga gereja diluar struktur gereja.

[32] Irving Kristovel dkk, Memotret Kanan Baru, terjemahan naskah asli tulisan Francis Fukuyama tentang buku,” the End of History “, Kreasi Wacana Yokjakarta,tahun 2001, sejak berahirnya perang dingin 1988, bahwa yang terjadi, “ bukan pada ahir idiologi atau titik temu antara kapitalisme dan sosialisme, seperti diramalkan semula, tetapi pada kemenangan besar liberalisme ekonomi dan politik”, hal 50-51.

[33] Irving Kristovel, tentang tulisan Francis Fukuyama, ibid ,”pengaruh budaya konsumerisme Barat yang melanda Cina, Moskow, Praha, Ragoon,,dll.“ hal.52

[34]John Perkins, Confessions of an Economic Hit Man,terjemahan Abdi Tandur, Jakarta 2005, yang secara gambling membuka rahasianya sebagai pekerja Eonomic Hitman yang selalu didukung oleh serigala-serigala CIA yang bila perlu melakukan segala cara termasuk membunuh mereka yang menolak uluran tangan persaudaraan corporat, pemerintah dan pimpinan perbankan yang memiliki tujuan untuk berkuasa secara global, hal viii.

[36] George Soros,Zaman Kenisbian,konsekensi perang terhadap terror, Tempo,Jakarta 2006, hal 18-19.

[37] Subcomandante Marcos, Bayang-bayang tak berwajah, INSIST, terjemahan, mengkaji keunggulan Neoliberalisme yang mampu menghancurkan basis-basis material kedaulatan nasional dan mampu menghadapi segala rintangan etis,jurisis,politis,cultural dan histories terhadap globalisasi ekonomi. Kini politik adalah pengelola ekonomi belaka dan politisi adalah administrator modern perusahaan Penguasa dunia baru bukan pemerintah. Pemerintahan-pemerintahan nasional bertangungjawab mengelola bisnis di pelbagai wilayah berbeda di seantero dunia, hal 395. Karena itu perlu perlawanan bersama masyarakat sipil dan memulai proses revolusioner dengan memlihkan kembali konsep bangsa dan tanah air, hal 345.

[38] Ensiklopedi Alkitab masakini, terjemahan, Yayasan Bina Kasih/OMF, Jakarta 1995

[39] Luther’s Works,lecuture on Deutronomy, Concordina Publishing House, St Louis,1997.

[40] Dr JR Hutauruk, Jubileum 125 tahun, pusat-pusat pelayanan gereja sudah berkembang perayaan Jubileum 50 tahun di berbagai wilayah dan desa di tapanuli Selatan,Simelungun dan Dairi. Sudah berkembang kegiatan yang melembaga pada tahun 1900 rumah sakit di Tarutung, wisma hutasalem di laguboti, pendidikan kebidanan tahun 1905. Telah berdiri sekolah-sekolah umum dan tahun 1911 didirikan sekolah tinggi di Tarutung, HIS oleh gereja, bukan pemerintah. Pada tahun 1911 sudah ada 494 sekolah dan 27.485 murid, hal 23.

No comments: